Sederhana saja pinta ku pada waktu saat itu. Aku memiinta waktu “jangan terburu-buru”. Berharap waktu tak secepat detak jantung ku kala itu. Semoga setiap detik tidak tergesa-gesa mengejar menit. Berharap detik lebih lambat detak nya, se pelan keong berjalan. Kalau pun ingin nya ke tinggian aku harap kali ini keberuntungan mau mencium ku kali ini. Diaa, aku mau mendengar suaranya.
Malam itu, tuk kesekian kali saya kembali ke restoran tersebut. Berharap dia yang menanyakan “mau makan apa”? seperti layak nya kekasih. Aku menyukai setiap ukiran tuhan pada dirinya. Tinggi, putih, bibir imut pink, rambut yang lebat, lengan yagn kekar. Aku suka pada nya kala pandangan pertama. Aku kutip kan “suka” bukan cinta.
‘ku mohon waktu jangan engkau balapan dengan detak jantungku”. Lensa ini menatap dia pekat-pekat, bagaiman dia berjalan, melayani pengunjung, menyajikan makanan. Bahkan pada saat di dapur pun, di aterlihat keren mengisap rokonyaa..
Yang namanya waktu, sekalipun di bunuh tak akan pernah berhenti berdetak. Bahkan jantung un tak bisa mennadinginya. Detak kan wwaktu abadi. Malam ini, di saat bintang pergi, di kala hujan setia menemani hari ini. Aku berdiri di sampingnya yang sedang membersihkan meja. ‘nama mu siapa kak?’ dia tidak mendengar. Yaa, dia tidak mendengar. Aku hanya menanyakan nya dalam hati ku saja.
Sepertii semua berlalu, malam itu berharap hujan tak mengahapus senyum ku J
D, 2/12/2012 07:46 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar