Iwan Styawan
Gelap ini membiarkan ku sendir,
Rindu yang menyesakkan sekali-kali mampu membuat ku termegap-megap.
sekali-kali ia mampu, membuat bahasa tubuhku berbicara ;
Menangis.
Engkau kini dekat dipelupuk mataku.
Membiarkanku menari-nari di mega-mega rasaku sendiri.
Lalu dijatuhkan dengan kenyataan yang kini menjadi serpihan di hatiku.
Di hatiku.
Akulah ingatan yang tak kau kunjungi lagi.
Ingatan di tiap celah fikiranku.
Pelupuk mataku kini mengembun.
Kini ia luruh, luruh.
Di pipiku, di pipiku.