Kepada kekasih, kekasih hati ku.
Untuk sekedar nama . . aku tak mau mengetahuinya.
Aku tak tau siapa kamu,
Bagaimana rupa mu,
Di mana kau kuliah,
Ukuran sepatu mu pun bahkan aku tak tau.
Tapi segala hal yang ku tahu tentang dirimu cuma satu.
Saat ini kau kekasih, kekasih dia di hati ku.
Apa kah dia menceritakan tentang ku?
Jika ia, ku harap kau jangan kaget.
Iyaaa. Aku lupa bagaimana caranya menyerah untuk merebut hati nya lagi.
Aku selalu mengirimkan sajak kepada kekasih mu, kau tau itu?
Jika kau tak tau, maka ku beri tahu.
Cinta ku mereka tak bisa diam. Selagi langit masih berawan, aku punya cinta yang mencintai nya selalu.
Okeee.. jangan lah kaget kekasih, kekasih hati ku.
Dia tak mencintai ku lagi.
Dia tak merindukan ku lagi.
Bahkan mengingatku pun tidak.
Mungkin ia terlalu bosan dengan ku.
wahai kekasih, kekasih hatiku.
Senyum siapa yang paling manis? Punya ku? Atau punya mu?
Ahh.. tak penting, cinta nya masih milik mu.
Kami berbeda. Tapi aku bisa memberi tahukan mu kalau dia begitu sempurna untuk di cintai, maksud ku terlalu mudah,
dia penyuka makanan yg di masak ibunya, mungkin tidak untuk telur putih dan cabe.
Benarr. . . dia tak suka makanan pedas. Berbeda sekali dengan ku.
Kalau mau mengajak nya jalan, jangan ke tempat yang panas, aku takut nanti kalian juga berbuat panas.
Hahaha. Enggak, aku takut dia berkeringat saja,
Sebab, aku takut kau mencium aroma tubuhnya itu.
Satu satu nya aroma tubuh yang ku sukai sampai detik ini.
Dia suka maen games, kau bisa menjadi partner nya ketika bermain Ps. Dia rival yang keren, yang akan membuat mu selalu kalah dan tertawa. Sekalipun menang mungkin karena ia sengaja, sengaja membuat mu tersenyum menang.
Dia penyuka angka angka. Jadi ku harap kau bisa mengerti. Maksud ku, kau akan merasa seperti di dua-kan jika ia sedang mengerjakan sesuatu yang berhubungan dengan angka angka. Dia akan mengesampingkan mu dahulu dengan ramah nya.
Dia pemilik sabit di muka nya, senyum yang meneduhkan. Kau bisa tersenyum hanya dengan membayangkan nya. Itu yang ku lakukan jika hari ku membosan kan. Kau tahu?? Rasanya seperti magnet di pipi ku yang membuat ku selalu terenyum jika mengingatnya.
Tatapan matanya??. Ku mohon. Izinkan itu tetap menjadi lekat lekat milikuu. Bagaimana tatapan matanya meneduhkan dan mampu menyederhanakan semua kesedihan ku. Aku rindu berada disana hanya untuk sekedar melamun.
Dia imam yang mudah mudahan baik dan aku tak bisa menjadi makmum nya.
Tenang wahai kekasih, kekasih hati ku.
Tentu aku tak menyalahkan mu.
karena
Aku berjalan ke gereja dia berjalan ke masjid.
Aku mengucapkan “puji Tuhan” sementara ia berucap “Alhamdulillah”
Aku berdoa sambil mengenggam tangan ku,
Sementara dia berdoa sambil mengadahkan tangan nya,
Kita berbeda meski katanya Tuhan itu sama.
Kepada mu kekasih, kekasih hatiku.
Aku mencintainya sama seperti kau mencintai nya.
Mungkin cinta ku lebih besar karena aku bertahan sampai detik ini.
Kepada mu kekasih, kekasih hati ku.
Aku pulang,
Nyaris Ku fikir di hati nya rumah ku.
Ku fikir di hati nya aku akan tertidur,
Menghitung tiap lipatan garis kecil di bawah mata sendu nya.
Aku terlalu bermimpi konyol tentang “selamanya”.
Tuhan, Bapa . .
Bangunkan aku. . .
*Fiksi Mini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar